BLOG INI PINDAH KE:

Selasa, 06 Maret 2012

Ayo PALOPO !!! Kita Cetak Sejarah Lagi !!! Menjadi Pilkada Pertama di Sul-Sel yang Dimenangkan Independen.

Tanah Luwu adalah bumi sarat heroisme. Ketika Republik Indonesia baru saja dicetuskan, Opu Andi Djemma berinisiatif mendirikan laskar Soekarno Muda tanah Luwu. Organisasi Ini didirikan hanya beberapa hari setelah kabar tentang proklamasi kemerdekaan, sampai ke tanah Luwu.

Sejarah negeri ini memang tidak bisa dipisahkan dengan lembaran kisah heroic wija' to Luwu. Kedatuan Luwu adalah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menyatakan bergabung ke dalam pangkuan republik. Bahkan, kisah mengenai perang terbuka yang dimotori laskar pemuda Luwu pada tanggal 23 Januari 1946 melawan tentara sekutu yang diboncengi Nica, ditetapkan sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta). Tidak heran, Datu Luwu yang mulia Andi Djemma, dikenal sebagai sang raja nasionalis. Bahkan presiden Soekarno sang Proklamator, sampai "jatuh cinta" pada wija' to Luwu dan menjanjikan status Daerah Istimewa bagi Luwu, sebagaimana Yogyakarta.

Dalam konteks penyebaran agama samawi, tanah Luwu juga adalah lahan persemaian dinul islam di Sulawesi. Ulama besar Datu Patimang yang konon berasal dari minangkabau, merupakan ulama penyebar ajaran Islam di tanah Luwu bersama dua orang sahabatnya; Datuk Ribandang di Gowa dan Datuk Ditiro di Bulukumba.

Akan tetapi, kisah patriotisme Wija to Luwu tampaknya belum direfleksikan dalam konteks nasional hingga hari ini. Janji Soekarno menjadikan Luwu sebagai Daerah Istimewa, pun be-lum tertunaikan. Sudah sejak lama Rakyat Luwu rindu menjadi provinsi sendiri demi memuliakan Indonesia. Akan tetapi, kerinduan ini sepertinya masih dikelilingi kabut hitam ketidakpastian.
Terdapat beberapa faktor yang menghadang provinsi Luwu Raya. Jika ditelisik lebih dalam, faktor terbesar yang mengerangkengnya, yaitu ; proses internalisasi nilai-nilai ke-Luwu-an dan pemahaman terhadap landasan ideologis untuk apa Luwu Raya berprovinsi, tampaknya belum tuntas. Akibatnya, ide pembentukan Luwu Raya seringkali menjadi korban politisasi kepentingan. Benturan kepentingan antar elit dan kelompok politik tertentu, sulit terhindarkan. Faktor inilah vang menjadi penyebab, ide Luwu Raya terus menggantung di antara langit dan bumi.

Dalam konteks ini, Luwu membutuhkan seseorang yang mampu memecah kebuntuan (ice breaker). Sosok yang sanggup berhati murni dan tidak takut untuk keluar dari mainstream kepentingan blok politik tertentu. Luwu Raya merindukan putranya yang berani dan ikhlas mewakafkan dirinya buat Wija To Luwu. Kita tidak bicara orang ataupun figur tertentu. Siapapun itu, sosok tersebut dapat saja lahir dari sebuah proses dialektika politik, termasuk Pilkada. Dengan kondisi demikian, Pilkada Palopo bukan saja memiliki makna penting bagi rakyat palopo, juga bernilai penting bagi seluruh Luwu Raya. Palopo sebagai jantung Luwu, dapat menjadi arena seleksi yang diharapkan menghasilkan penerus perjuangan pembentukan Luwu Raya.

Organized by:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
© NAJAMUDDIN CENTER
Designed by Laskar Perubahan
Back to top