BLOG INI PINDAH KE:

Welcome to Najamuddin Center Independent Candidate for Palopo 2013

Senin, 02 Januari 2012

Strategisnya Pilkada Palopo

Sangat disayangkan, makna strategis pilkada Palopo masih belum tampak. Pertarungan popularitas dan elektabilitas antar bakal calon, sepertinya masih didominasi wajah-wajah lama birokrasi dan politisi. Sebagaimana kita sama tahu, wajah-wajah itu terbukti kurang cekatan membangun kesatuan untuk menarik gerbong pembentukan provinsi Luwu Raya. Apalagi figur tersebut bukan hanya mewakili kepentingan Palopo itu sendiri, tetapi juga kepentingan partai. Bahkan biasanya kepentingan partai cenderung lebih dominan.

Selain itu, kemunculan figur pemimpin melalui jalur partai, juga dikhawatirkan akan mengurangi makna strategis Pilkada Palopo itu sendiri. Hal ini sangat mungkin, sebab relasi patron-Mien antara figur dan partai yang mengusung, acapkali berjalin dan berkelindan yang sulit dipisahkan. Dengan kondisi ini, ide pembentukan Luwu Raya, lagi-lagi terancam mogok. Jangan heran ketika kita tidak pernah mendengar isyu Luwu Raya dari kandidat walikota Palopo yang diusung partai tertentu. Sebenarnya, peluang untuk menghadirkan sosok ice breaker melalui jalur non partai (independen) masih terbuka lebar. Sayangnya, pintu itu tampaknya sepi peminat. 
Hal ini dapat dimaklumi, sebab dari fakta yang ada, pasangan kandidat melalui jalur independen yang berhasil memenangkan Pilkada, sangat kecil. Dari seluruh Pilkada di Indonesia, pasangan independen yang menang, tidak lebih dari sepuluh persen. Artinya, 90% kabupaten dan provinsi di Indonesia dipimpin oleh pasangan yang diusung parpol. Meskipun demikian, harapan bagi independen tidak tertutup sama sekali. Pilkada bukanlah pemilihan partai, melainkan pemilihan orang. Kemenangan dalam Pilkada tidak ditentukan oleh partai, melainkan kinerja tim pemenangan. Pilkada Garut di Jawa Barat, Pilkada Batubara di Sumatera Utara, dan Pilkada di Rote Ndao Nusa Tenggara Timur, Pilkada Kubu Raya di Kalimantan, untuk menyebut beberapa contoh dimana pasangan kandidat "Putih" (Independen) keluar sebagai pemenang, mengalahkan pasangan kandidat yang diusung partai politik. Bahkan Di Aceh, pemilihan gubemur dan wakil gubernur dimenangi secara meyakinkan oleh pasangan independen. Dari 21 pemilihan bupati/wali kota di Aceh, calon independen menang di delapan daerah. Kedelapan daerah itu adalah Sabang, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Jaya, dan Lhoksuemawe.
Persoalannya, adakah figur yang berani bertarung habis-habisan di pilkada Palopo dengan mengambil jalur independen? Kalaupun ada, apakah jalur independen itu dijadikan sebagai pilihan atau malah keterpaksaan? Sebagaimana diketahui, memilih jalur partai, biasanya mempersyaratkan biaya sewa kendaraan yang tidak masuk akal. Dalam konteks itu pula, kandidat yang diusung parpol, memiliki kecenderungan korup lebih besar, dibandingkan kandidat independen jika keluar sebagai pemenang.
Dalam konteks Sulsel, dari seluruh Pilkada yang digelar, belum satupun kandidat independen yang berhasil memenangkan pilkada. Untuk kota Palopo, terbukanya ruang bagi calon independen maju di pemilukada, merupakan kesempatan pertama sebab pada pilkada Palopo tahun 2008 silam, independen belum diakomodasi. Dengan masuknya calon independen dalam pilkada di bumi pelopor sejarah ini, kesempatan untuk menemukan figur altematif yang memberi harapan baru bagi pembentukan provinsi Luwu Raya, menjadi penting dan relevan. Saatnya Wija' To Luwu melalui rakyat Palopo, berkesempatan mencetak sejarah baru, sebagai daerah pertama di Sulawesi Selatan yang memenangkan pasangan Independen. Mungkinkah? Wallahu Alam Bis Showab...

Organized by:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
© NAJAMUDDIN CENTER
Designed by Laskar Perubahan
Back to top